Thursday, February 20, 2014

I See Dead People

The Screaming Staircase - Undakan MenjeritThe Screaming Staircase - Undakan Menjerit by Jonathan Stroud
My rating: 5 of 5 stars

Jonathan Stroud did it again!!!

Setelah serial Bartimaeus, belum ada terjemahan karya Jonathan Stroud lain yang mampu membuatku terpaksa memberikan ponten lima dari lima. Heroes of the Valley oke juga sih, tapi waktu membaca novel The Last Siege entah mengapa malah teringat Petualangan di Puri Rajawali-nya Enid Blyton, sementara  The Leap… eh, ceritanya tentang apa ya? Bahkan ingatan tentang isi ceritanya saja sudah melompat keluar dari ingatanku. Mungkin di benakku buku terakhir itu terlanjur masuk ke dalam loci just so-so story

Lantas, tahu-tahu saja aku menemukan terjemahan buku baru Stroud di rak toko buku online pada bulan Januari 2014, tanpa pernah menyadari kehadirannya ke dunia saat pertama kali terbit *lebay*, padahal biasanya sebelum keluar versi terjemahannya, minimal aku sudah mengunduh versi ebooknya dulu (yang bisa jadi langsung dibaca, tapi bisa juga hanya menambah timbunan file ebook). Judulnya Screaming Staircase alias Undakan Menjerit, dan merupakan seri pertama dari Lockwood & Co. Sip, berarti ini pasti ada sekuelnya, dan… seharusnya sih kalau seri pasti seru.

Tentu saja, aku tidak menunggu sampai bukunya dipajang di lapak diskonan, langsung mengklik “add-to-cart”, walaupun begitu bukunya datang sempat terlantar seminggu sebelum kubuka. Untuk buku nonkomik, itu sudah bagus, karena buku lain umumnya tertimbun berbulan-bulan.

Oke, lantas, bagaimana posisi Undakan Menjerit ini di antara karya-karya Stroud?


Menurut pendapatku pribadi, buku ini kuletakkan di posisi yang setara dengan serial Barty. Di sini tidak ada jin super narsis sih, tapi ada banyak stok makhluk supranatural yang bisa membuat kita merasa sedang menonton film-filmnya James Wan.  Dan seperti halnya serial Barty yang settingnya Inggris alternatif di mana penyihir berkuasa (bukan bersembunyi dari para Muggle) dan makhlus halus bisa dipanggil dari dunia lain, pada seri Lockwood & Co ini settingnya Inggris alternatif di mana pemburu hantu merupakan profesi yang lazim, dan hantu gentayangan menjadi wabah yang melanda seluruh negeri selama lima puluh tahun terakhir.

Pemburu hantu sendiri pada umumnya terdiri dari anak-anak dan remaja yang memiliki bakat cenayang yang bisa merasakan, melihat, atau mendengarkan hantu. Sedangkan mantan pemburu hantu yang sudah dewasa yang sudah kehilangan kemampuan biasanya menjadi supervisor yang mengatur dan mengarahkan para cenayang cilik itu berdasarkan pengalaman. Semua aktivitas para pemburu hantu itu sendiri berada di bawah pengawasan lembaga pemerintah, DEPRAC.

Anthony Lockwood mendirikan Lockwood & Co tanpa mengindahkan kelaziman yang berlaku, karena bergerak tanpa bimbingan orang dewasa. Dalam menjalankan usahanya, ia dibantu oleh George Cubbins dan Lucy Carlyle. Interaksi sehari-hari maupun dalam pekerjaan di antara tiga remaja dengan sifat dan kepribadian yang berbeda ini asyik untuk diikuti.

Ceritanya sendiri dimulai dengan kasus standar dari klien yang mengira suaminya yang belum lama tewas karena jatuh dari tangga menghantui rumahnya. Namun ternyata Lockwood dan Lucy yang menangani kasus itu mendapati kasusnya tidak sesederhana itu. Lawan yang harus dihadapi bukanlah hantu suami si nyonya rumah, tapi justru hantu yang telah menyebabkannya si suami tewas. Hantu yang dihadapi bukan hantu tipe satu yang tidak berbahaya, melainkan hantu tipe dua, yang bisa melakukan kontak fisik, dan jelas berbahaya. Meskipun pada akhirnya Lockwood dan Lucy berhasil menangani si hantu karena menemukan dan mengamankan Sumber alias penyebab utama gentayangannya si hantu, kurangnya persiapan membuat rumah yang seharusnya mereka bersihkan malah kebakaran. Ujung-ujungnya, Lockwood & Co malah dituntut untuk membayar ganti rugi dari si pemilik rumah.

Pucuk dicinta ulam tiba, saat sedang sibuk memikirkan strategi bagaimana caranya mendapat kasus besar yang bisa menutupi tuntutan ganti rugi yang bikin bangkrut itu, datang tawaran untuk membersihkan rumah berhantu terkenal yang pernah menewaskan beberapa pemburu hantu dari agensi besar. Berbahaya? Pasti. Tapi demi kelangsungan usaha yang sudah berada di ujung tanduk, Lockwood & Co pun menerima tawaran itu.

Pace buku ini agak lambat, tapi sebenarnya sangat cocok untuk buku bertipe horor yang kelam gelap mencekam begini. Pembaca digiring pelan-pelan untuk mengikuti setiap langkah para tokoh yang tengah menyelidiki ruangan demi ruangan, lalu dihadapkan pada sosok misterius yang dideskripsikan begitu detil sampai membuat merinding. Manusia yang berhadapan dengan hantu berkekuatan tertentu bisa terpaku, mengalami kuncian-hantu (ini sama dengan ketindihan, sepertinya) sehingga nyaris tak bisa melawan saat diserang. Dan pembaca pun dibuat terkunci dan tak sanggup meletakkan buku... kecuali yang karena saking seramnya malah memilih untuk sekip saja, barangkali. Untungnya aku membaca buku ini pada sore hari menjelang magrib, jadi tidak terlalu horor deh :)

Eksorsisme yang digambarkan oleh Stroud di novel ini sangat teknis, sama sekali tidak ada unsur reliji, dengan doa-doa dalam bahasa latin ataupun arab seperti yang biasa muncul di film-film horor Hollywood maupun Indonesia. Peralatan utama pemburu hantu umumnya terbuat dari besi, bisa berupa pedang rapier untuk menyerang atau rantai atau bubuk besi untuk dijadikan perisai. Tapi yang bisa mengembalikan para hantu ke alam lain biasanya bila sumber gentayangannya ditemukan, karena ada saja hal yang mengikat para roh dengan dunia fana. Kalau untuk alat penyucian roh, dipikir-pikir sepertinya manga Rinne-nya Rumiko Takahashi jauh lebih kreatif sih, dari alat yang murah-meriah sampai alat yang harganya paling bikin bokek semua ada :)

Hingga akhir novel, di luar cerita utama, masih banyak kisah yang belum terungkap. Di buku satu ini kita dibuat mengetahui masa lalu Lucy Carlyle, tapi bagaimana dengan Lockwood dan George? Sepertinya latar belakang dan asal-usul mereka juga menarik untuk dinanti pengungkapannya. Yah, kita tunggu saja buku selanjutnya.

View all my reviews

No comments:

Post a Comment